Pretty Icons Pretty Icons Pretty Icons Pretty Icons Pretty Icons Pretty Icons Pretty Icons
Tumblr Scrollbars
Tumblr Scrollbars
Tumblr Scrollbars
BelvaLivia
Victorian Tumblr Themes

" Kisah Raja Jahat dan Raja Baik "

Alkisah, dahulu kala ada dua orang raja: Raja Baik dan Raja Jahat.
Suatu ketika, Si Raja Jahat jatuh sakit. Menurut tabib yang
didatangkannya, ia hanya bisa sembuh jika memakan sejenis ikan yang
ketika itu mustahil didapatkan karena pada musim itu jenis ikan
tersebut berada jauh di dasar lautan. Si Raja Jahat pun memerintahkan
seluruh prajurit dan rakyatnya mencari ikan tersebut. Meski diyakini
mustahil didapat, namun para prajurit dan rakyat terus mencarinya
karena takut dipenggal jika tidak dapat menangkap ikan itu.

Namun, Allah memiliki kehendak. Allah mengutus para malaikat untuk
menggiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar laut supaya orang
mudah menangkapnya. Akhirnya, ikan itu pun ditangkap. Raja memakannya
dan ia segera sembuh.

 Pada musim berikutnya, giliran Si Raja Baik jatuh sakit. Ia menderita
penyakit yang sama seperti yang diderita Si Raja Jahat. Tetapi ia
sakit pada waktu ikan yang menjadi obatnya itu berada pada permukaan
laut, sehingga kemungkinan sangat mudah untuk menangkapnya. Namun,
lagi-lagi, Allah memiliki kehendak. Allah mengutus para malaikat untuk
menggiring ikan-ikan itu dari permukaan laut sampai masuk kembali ke
lubang-lubangnya di dasar laut. Para prajurit dan seluruh rakyat yang
ramai-ramai mencari ikan itu dengan penuh keikhlasan dan rasa
sayangnya kepada Sang Raja, tidak berhasil mendapatkannya. Alhasil, Si
Raja Baik itu pun meninggal dunia.

Berdasarkan kejadian tersebut, para malaikat langit dan penduduk bumi
keheranan. Mereka bingung dan bertanya kepada Allah. Mereka kira ada
ketidakadilan dalam peristiwa itu, di mana Si Raja Jahat diberikan
kesembuhan, sementara Si Raja Baik justru dimatikan. Atas kejadian
itu, kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada
para nabi di zaman itu:

“Inilah Aku. Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Mahakuasa. Tidak
menyusahkan Aku apa yang Kuberikan. Tidak bermanfaat bagi-Ku apa yang
Kutahan. Sedikit pun Aku tidak menzalimi siapa pun. Adapun Raja yang
jahat itu, Aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya.
Dengan begitu Aku membalas kebaikan yang ia lakukan. Aku balas
kebaikan itu sekarang supaya ketika ia datang pada Hari Kiamat,
tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Ia masuk ke
neraka karena kekufurannya. Adapun Raja Baik yang ahli ibadah itu, Aku
tahan ikan pada waktunya. Dia pernah berbuat salah. Aku ingin
menghapuskan kesalahannya itu dengan menolak kemauannya dan
menghilangkan obatnya supaya kelak dia datang menghadap-Ku tanpa dosa.
Dan dia pun masuk ke surga.”

***

Kisah di atas —konon berdasarkan Hadits Qudsi yang diceritakan
Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya (Wallahu A’lam)— sejatinya
menjawab kebingungan kita selama ini. Bukankah kita sering
bertanya-tanya: “Mengapa Allah membiarkan orang-orang mukmin yang baik
tidak henti-hentinya ditimpa duka? Sementara orang kafir dan durhaka
terus-menerus mendapatkan keberuntungan? Mengapa pemimpin yang zalim
kerap berusia panjang, sementara pemimpin yang adil umumnya cepat
meninggal dunia?

Rupanya, —meniliki kisah di atas— musibah yang datang silih berganti
dalam kehidupan ini, boleh jadi merupakan “tanda” cinta Allah kepada
kita. Allah berkehendak menghapus segala dosa dan kesalahan kita
melalui musibah tersebut. Allah membayar dosa dan kesalahan kita
secara “cash” di dunia ini, sehingga pada Hari Kiamat kelak, kita akan
datang menghadap-Nya dengan seluruh kebaikan kita tanpa secuil pun
dosa.

Sementara kenikmatan yang kita peroleh bertubi-tubi saat ini, boleh
jadi, justru merupakan “batu sandungan” yang Allah timpakan kepada
kita. Allah berkehendak membayar kebaikan kita melalui kenikmatan
tersebut. Allah membayar kebaikan kita secara “cash” di dunia ini,
sehingga pada Hari Kiamat nanti tak ada secuil pun kebaikan saat
menghadap-Nya.

Sejatinya, musibah dan nikmat hanyalah ujian yang ditimpakan Allah
kepada kita. Terhadap dua ujian itu, Allah memberikan pilihan, apakah
kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersabar dan bersyukur atau
sebaliknya?

So, positive thinking saja kepada Allah sambil berupaya dan berharap
semoga Dia menganugerahi kita sifat sabar dan syukur atas segala
takdir yang ditetapkan-Nya.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses

Ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Gimana tuh?

Jawabannya ada pada hadits berikut ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.

Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.

Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.

Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalat berjama’ahnya, bagaimana ketaatan-ketaatannya kepada Allah dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.

Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?

Kesimpulan: Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan.

Oleh: Zulfi Akmal, Lc. MA.